Sunday, November 29, 2020

Digital Divide atau Kesenjangan Digital

 

Digital Divide atau Kesenjangan Digital adalah masalah sosial yang merujuk pada perbedaan jumlah informasi antara mereka yang memiliki akses ke Internet (khususnya akses broadband) dan mereka yang tidak memiliki akses. Istilah ini menjadi populer di kalangan orang-orang pada akhir tahun 1990-an dimana cara baru untuk mengakses informasi bermunculan.

Secara garis besar, perbedaan tidak selalu ditentukan oleh akses ke Internet, tetapi oleh akses ke TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan ke Media yang dapat digunakan oleh berbagai segmen masyarakat. Sehubungan dengan Internet, akses hanya satu aspek, faktor lain seperti kualitas koneksi dan layanan terkait harus dipertimbangkan. Saat ini yang paling banyak dibicarakan adalah ketersediaan akses dengan biaya dan kualitas yang terjangkau.

Krisis Virus Corona yang sedang kita alami sekarang ini telah menunjukkan efek Kesenjangan Digital dalam pendidikan, yaitu beberapa guru dan siswa sulit mendapatkan informasi karena mereka kekurangan teknologi dan keterampilan digital yang memadai. Ini juga meningkatkan kurangnya pengetahuan dengan adanya adanya Kesenjangan Digital tersebut.

Penyebab utama Kesenjangan Digital adalah hak akses terhadap internet. Meskipun ini merupakan faktor utama, ada faktor lain juga yang berkontribusi antara lain : biaya teknologi yang masih mahal, kurangnya keterampilan dalam menggunakan alat-alat untuk mengakses internet, kurangnya pendidikan, kurangnya informasi, dan masih banyak kinerja komputer yang rendah.

Dampak yang dihasilkan oleh Kesenjangan Digital ini antara lain memperlebar pemisahan antar orang-orang yang memiliki akses dan yang tidak dimana orang yang memiliki akses terhadap informasi akan semakin maju sedangkan orang yang tidak mendapat akses tersebut akan terus terbelakang. Jika kesenjangan tersebut tetap dibiarkan maka perbedaan antara orang-orang tersebut akan sangat jelas terlihat hingga jika kita ingin menyamakan orang yang tidak mendapatkan akses dengan orang yang mendapatkan akses membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit juga.

Tetapi Kesenjangan Digital ini juga memberikan dampak positif yang diantaranya yaitu membantu menjaga budaya dan keutuhan tatanan masyarakat tetap terjaga. Negara-negara maju mengalami perubahan budaya yang luar biasa karena mereka memasukkan budaya baru yang diperoleh dari internet sementara negara berkembang dengan orang-orang yang memiliki akses terbatas ke internet memiliki budaya mereka yang mengalami sedikit hingga tidak sama sekali perubahan.

Pendidikan merupakan faktor kunci dalam memberikan solusi untuk Kesenjangan Digital. Pusat Teknologi Komunitas bermunculan di seluruh negeri dan berupaya meningkatkan ketersediaan dan pendidikan di populasi yang terus-menerus miskin. Perguruan tinggi dan universitas memberikan pelatihan teknologi kepada mereka yang terdaftar dalam program mereka. Pelatihan teknologi dalam pendidikan komunitas sedang meningkat.

Sekolah Dasar (SD) dan Menengah (SMP/SMA/Sederajat) juga berupaya mengatasi masalah ini dengan menambahkan laboratorium komputer ke sekolah mereka masing-masing dan ada juga sekolah-sekolah yang memberikan sebuah Laptop kepada tiap-tiap siswa nya sebagai media belajar. Ini semua adalah solusi untuk mengatasi Kesenjangan Digital yang sejak dulu sudah ada dan membatasi sebuah wilayah (bahkan nsebuah Negara) untuk berkembang karena dampak nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi :

https://www.internetworldstats.com/links10.htm

http://www.auburn.edu/~daysele/Divide.doc#:~:text=The%20major%20cause%20of%20the,%2C%20and%20lower%2Dperformance%20computers

http://www.digitaldividecouncil.com/the-impacts-of-digital-divide/

Monday, November 23, 2020

Participatory Culture

 

Participatory Culture, atau bisa diartikan menjadi Budaya Partisipasif adalah sebuah konsep sebuah budaya dimana individu dalam suatu kelompok atau komunitas tidak hanya bertindak sebagai konsumen, tetapi juga dapat berperan sebagai kontributor atau produsen didalam kelompok atau komunitas tersebut.

Participatory Culture ini dipopulerkan oleh seorang Sarjana media dan Profesor Rektor Komunikasi, yaitu Henry Jenskin dimana ia berkata bahwa Participatory Culture itu adalah budaya dengan tingkat penghalang suatu eksperesi yang artistik dan hubungan antar individu yang relatif rendah, serta dukungan kuat untuk membuat dan berbagi kreasi seseorang, dan beberapa jenis bimbingan informal di mana apa yang dikenal oleh yang paling berpengalaman dapat diteruskan kepada para pemula.

Dengan begitu maka setiap individu dalam suatu komunitas dapat menjadi kontributor atau setidaknya berkontribusi dalam komunitasnya masing-masing. Hal ini menjadi semakin lumrah seiring dengan berkembangnya media-media komunikasi digital seperti sekarang ini. Orang-orang dapat berdiskusi online, menyampaikan ide-ide mereka, saling menanggapi usulan, saling memberikan pendapat dan lain sebagainya dengan orang yang mungkin belum mereka kenal tanpa harus bertemu secara langsung.

Adanya media digital atau lebih tepatnya disebut New Media ini dapat mempermudah berbagai macam orang dengan berbagai macam karakter, pola pikir serta background untuk saling berkomunikasi serta bertukar pikiran tentang apa yang sedang terjadi disekitar mereka. Salah satu media yang sangat mendukung Participatory ini adalah sebuah website bernama Wikipedia.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, website Wikipedia merupakan sebuah website ensiklopedia online gratis yang membantu menciptakan dunia di mana setiap orang dapat dengan bebas berbagi semua pengetahuan. Dalam sebuah subjek didalam Wikipedia kita dapat menuliskan apa yang kita ketahui terhadap subjek tersebut dan kita pun dapat berkolaborasi bersama orang lain dalam menyelesaikan suatu subjek atau topik pembicaraan.

Hal ini tidak hanya berlaku pada website Wikipedia saja, tetapi hampir semua media sosial juga terdapat konsep Participatory Culture ini, entah itu terdapat pada Platform Youtube, Discord, Facebook,  Reddit, Fandom, hingga pada sebuah group di aplikasi Whatsapp sekalipun. Setiap individu yang ada di dalam komunitas tersebut dapat berkontribusi dan berperan dalam komunitas nya masing-masing.












Referensi :

https://newlearningonline.com/literacies/chapter-7/jenkins-on-participatory-culture

https://www.youtube.com/watch?v=1gPm-c1wRsQ

https://en.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:About